TAFSIR AL-QUR’AN : [QS. Al-Baqarah, 2:117]

“Badii’us samaawaati wal ardhi wa idzaa qadhaa amran fa innamaa yaquulu lahuu kun fa yakuun” (Pencipta langit dan bumi, dan apabila Dia telah menetapkan suatu urusan, maka Dia hanya mengatakan kepadanya,”Jadilah”, lalu jadilah ia) (QS. Al Baqarah, 2:117).

Pada ayat sebelumnya (QS. Al Baqarah ayat 116), Allah SWT menafikan tuduhan orang-orang kafir dan musyrikin yang meragukan Kemahakuasaan-Nya hingga Allah dituduh memerlukan kehadiran seorang anak, maka pada awal ayat 117 ini Allah SWT menegaskan perihal Kemahakuasaan-Nya dengan menyatakan: “Badii’us samaawaati wal ardhi” (Pencipta langit dan bumi). Kata “badii”‘ dalam bahasa Arab bermakna bukan hanya menciptakan tapi menciptakan sesuatu “tanpa” berpegang pada contoh yang ada sebelumnya. Ayat ini menegaskan bahwa tatkala Allah menciptakan langit dan bumi serta makhluk-makhluk Allah lainnya tidak terikat oleh ciptaan sebelumnya, dalam arti ciptaan tersebut “benar-benar baru” hanya dengan “Kun fa yakuun” Allah yang semula tidak ada menjadi ada.

Dan, tentu saja ciptaan Allah ini bukan secara kebetulan tapi benar-benar dalam sebuah perencanaan Allah Yang Maha kuasa. Allah SWT berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, kejadian langit dan bumi serta berlainan bahasa dan warna kulit kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu”(QS. Ar Ruum, 30:22). Ayat ini mengisyaratkan bahwa penciptaan langit dan bumi serta berbedanya bahasa dan warna kulit adalah termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya pula bahwa Allah Mahakuasa membangkitkan kembali manusia yang telah mati dan hal ini lebih mudah bagi Allah daripada menciptakan yang baru. Allah SWT berfirman: “Dan sungguh Kami telah mengetahui apa yang telah ditelan bumi dari mereka, dan di sisi Kami ada Kitab yang terpelihara” (QS. Qaaf, 50:4).

Dalam lanjutan ayat dinyatakan: “Wa idzaa qadhaa am ran” (Dan apabila Dia telah menetapkan suatu urusan). Pada ayat ini kata “Qadhaa” bermakna “ketetapan”. Dan, kata “Qadhaa” pun dapat bermakna banyak tergantung dari konteks kalimatnya. Paling tidak, ada “delapan” makna. Pertama, bermakna telah selesai (QS.AI Baqarah,2:200). Kedua, melakukan perbuatan apa yang hendak dilakukan (QS. Thaahaa, 20:72). Ketiga, menetapkan hukum (QS. Al Ahzaab, 33:36). Keempat, mematikan (QS. Az Zukhruf, 43:77). Kelima, selesai atau berakhir (QS. Ibrahim, 14:22). Keenam, dekat (QS Al Qashash, 28:29). Ketujuh, menghukum dengan adil (QS. Yunus, 10:54). Kedelapan, permakluman (QS.AL Israa’, 17:4).

Pada umumnya arti “qadhaa” adalah “menetapkan”. Maka pada penghujung ayat dinyatakan: “Fa innamaa yaquulu lahuu kun fa yakuun” (Maka Dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah”, lalu jadilah ia). “Kun” di dalam ayat ini bermakna bahwa apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu maka Dia hanya menyatakan “Kun”, maka “Jadilah”. Kata, “Lahuu” (kepadanya), kesannya sesuatu tersebut sudah ada, padahal sesuatu itu baru akan diciptakan. Keberadaan kesemuanya tersebut berada dalam ilmu Allah.

Pada ayat selanjutnya dinyatakan: “Wa qaalal ladziina laa ya’lamuuna laulaa yukallimunallaahu au ta’tiinaa aayatun ka dzaalika qaalal ladziina min qablihim mitsla qaulihim tasyaabahat quluubuhum qad bayyannal aayaati li qaumiy yuuqinuun” (Dan berkata orang-orang yang tiada mengetahui, “Mengapa Allah tiada (langsung) berbicara atau mendatangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami. Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka, hati mereka serupa. Sungguh Kami telah menerangkan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin) (QS. Al Baqarah, 2:118)

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan perihal sikap orang-orang kafir. Mereka tidak mengetahui kebenaran yang datang dari Allah lewat Rasulullah Saw. Ketidaktahuan mereka karena mereka tidak mengimani Al-Quran lalu mereka menuntut kepada Rasul agar dapat menghadirkan Allah agar bisa diajak berdialog. Hal ini persis seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa As yang ingin melihat Allah secara langsung (QS.Al Baqarah, 2:55).

Penyebab timbulnya tuntutan orang-orang kafir terhadap Rasul seperti yang dilakukan kaum Bani Israil terhadap Nabi Musa As karena mereka tidak mau mengambil pelajaran, sekaligus karena mereka tidak pernah mengalami apa yang pernah dialami Nabi Musa beserta umatnya yang disambar halilintar. Sangat tidak mungkin keinginan mereka untuk melihat dan mendengar suara-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan tiadalah bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata kepadanya, melainkan dengan wahyu atau dari belakang dinding, atau Dia mengirim utusan, lalu Dia mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Maha Bijaksana” (QS.AsySyuuraa, 42:61).

Selain itu pula mereka menuntut didatangkan kepada mereka ayat-ayat Allah (Mu’jizat) sebagai tanda-tanda Kemahakuasaan Allah untuk menjadi bukti kerasulan Muhammad, hal ini dilakukan hanya sebagai akal-akalan saja. Padahal, Al Qur’an adalah mu’jizat terbesar yang kekal karena merupakan firman Allah. Perihal mereka meminta tanda-tanda kemahakuasaan Allah (Mu’jizat) padahal kalau pun Mu’jizat itu Allah turunkan kepada para nabi mereka tetap saja tidak mau beriman. Allah SWT berfirman: “Dan tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan tanda-tanda (kekuasaan Kami) melainkan orang-orang terdahulu telah mendustakannya, dan Kami mendatangkan kepada kaum Tsamud seekor unta betina sebagai bukti yang jelas, lalu mereka menganiayanya. Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk mempertakuti” (QS. Al Israa’, 17:59). Juga dalam firman-Nya: “Maka tatkala mu’jizat-mu’jizat Kami datangkan kepada mereka dengan terang, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan ketakaburan padahal hati mereka meyakininya. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang merusak”(An Naml, 27:13-14).

Dalam laniutan ayat dinyatakan: “Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka, hati mereka serupa”. Ayat ini mengisyaratkan bahwa mereka sepeprti halnya orang-orang yang sebelumnya telah menerima risalah Allah melalui Zabur, Taurat dan Injil, karena itu hati mereka sudah sama-sama tertutup maka mereka tidak mau menerima kebenaran yang datang.

Di penghujung ayat dinyatakan: “Sungguh Kami telah menerangkan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin”. Allah telah mempertegas bahwa ayat-ayat-Nya sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya telah banyak di sekitar kehidupan ini khusius bagi orang-orang yang yakin. Yang dimaksud yakin adalah satu keyakinan yang sudah ada di dalam hati di mana tidak ada ruang bagi akal kita untuk bertanya lagi perihal perintah dan larangan-Nya. Jika seseorang masih mempertanyakan suatu perintah dan larangan Allah, berarti yang bersanngkutan belum yakin.

Paling tidak, ada “tiga” tahapan proses keyakinan. Pertama, berkeyakinan atas dasar ilmu. Kedua, atas dasar melihat. Ketiga, Haqqul yakin yang merupakan keyakinan paling tinggi derajatnya. Allah SWT berfirman: “Dan adapun jika dia termasuk orang-orang mendustakan lagi sesat, maka hidangannya dari air yang mendidih, dan dibakar dalam neraka. Sesungguhnya ini ialah keyakinan yang benar” (QS. Al Waaqi’ah, 56:92-95).

Wallahu a’lam bish-shawab.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: