Beranda > halaman > Benarkah Al-Quran Dan Hadits Mengatakan: Isa Adalah Tuhan?

Benarkah Al-Quran Dan Hadits Mengatakan: Isa Adalah Tuhan?


Tulisan Merah adalah perkataan Kristen..sedangkan yang tulisan hitam adalah jawaban dari penulis:

Kristen mengatakan:

Isa Al-Masih adalah The-Word incanated, yaitu Firman/Kalimat Allah yang Ilahi turun (nuzul)
masuk kedunia (melalui Maria). “lahir” menjadi anak manusia!
APAKAH BENAR ISA ITU KALIMATULLAH YANG NUZUL….??SO MARI KITA SIMAK….
VERSI ISLAM DIKATAKAN…
1.LANDASAN HADITS
PERKATAAN Muhammad sendiri yang mengatakan: “Isa faa innahu Rohullah wa Kalimatuhu’- (Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan Firman-Nya). (Hadits Anas bin Malik–Mutiara Hadits halaman 353).

Terjemahan:
Kata Ibnu ‘Abbas r.a.: Yahya dan ‘Isa adalah saudara sepupu dari pihak ibu,
dan ibu Yahya pernah berkata kepada Maryam: “Aku mendapati bahwa bayi yang ada dalam
perutku bersujud kepada bayi yang ada di perutmu”. Yahya sudah membenarkan
‘Isa sejak dalam kandungan ibunya, dan dialah orang yang paling awal menyaksikan kebenaran
‘Isa, yaitu ‘Isa sebagai Firman Allah.

 

Jawab:

Hadits yang sebenarnya berbunyi:

“Isa faa innahu Roh-ul-Lah wa kalimatuhu”

Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan Kalimat-Nya  [ Hadist riwayat Anas bin Malik Hal. 72 ]

Tanpa adanya penambahan kata TERJEMAHAN karena hadits tersebut tidak menyambung sebagaimana si penuding mencoba/memasukkan terjemahan dengan menghubungkan perkataan dari Ibnu ‘Abbas r.a.

Isa Faa Innahu Roh ul lah wa kalimatuhu: lihat konteks yang sebenarnya dibawah ini:


  • عيسى – ‘Isa
  • قال – (Isa) berkata
  • يكون – adalah ia (Isa)
  • له – bagi-Nya-lah/memiliki
  • وعيسى – dan ‘Isa
  • وأقسطوا – dan berlaku adil-lah kamu
  • وكفى – dan cukup-lah
  • وعيسى – dan Isa
  • وروح – dan roh
  • والروح – dan Roh/Jibril
  • واركعي – dan ruku’lah
  • واركعوا – dan ruku’lah kamu
  • بعيسى – dengan Isa
  • بروح – dengan Roh
  • بروح – dengan roh pertolongan
  • هو – Dia-lah
  • قال – ia (Isa) berkata
  • عيسى – Isa
  • قتلوه – mereka membunuhnya (Isa)
  • فيه – padanya (Isa)
  • الروح – roh
  • روحي – roh-Ku
  • روحا – roh/Al Qur’an
  • الروح – roh/jibril
  • اركعوا – ruku’lah kamu

konteks ayat tersebut tidak mengandung pengertian seperti yang mereka (penuding) fahami. Pengertian yang tersirat dalam ayat tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala menyebutkan kata “al Masih” kemudian menggantikan nama itu dengan nama orang (personifikasi), yaitu Isa yang dinasabkan kepada ibunya, Maryam, sebagaimana orang lain dinasabkan kepada ayahnya.

Allah menjadikannya sebagai rasul yang diutus kepada Bani Israil, kemudian penggambarannya disambungkan kepada Allah, maka dikatakan bahwa dia adalah “kalimat Allah” atau dengan kata lain, Allah menciptakannya dengan perkataan “jadilah” (kun), sebagaimana Allah menciptakan Adam dengan kata tersebut tanpa melalui proses pembuahan (tanpa ayah dan ibu), kemudian menggambarkannya sebagai ruh yang diciptakan Allah Ta’ala.

Allah menyebut Isa sebagai Rasul Allah atau orang yang diutus Allah, sebagaimana para rasul yang membawa syariat-Nya yang diutus kepada makhluk-Nya agar mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah.

Isa sebagai “kalimat Allah” yang diutus-Nya melalui seorang malaikat. Malaikat itu meniupkan ruh ke dalam perut Maryam sehingga ia mengandung, kemudian Allah menyebutkan bahwa ruh itu berasal berasal dari-Nya, yaitu ruh yang merupakan makhluk ciptaan Allah pula. Maka penamaan “kalimat Allah” merupakan tambahan kemuliaan, seperti yang terdapat dalam kata “Rumah Allah” (Baitullah), “pedang Allah” (saifulah) atau “Unta Allah” (Naaqatallah).

Sedangkan kata “Ruh al Qudus” yang disebutkan Allah Ta’ala “Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus”. (QS Al Baqarah (2) : 87), yang dimaksudkan adalah Jibril yang merupakan malaikat pembawa wahyu yang diturunkan kepada para nabi dan ia adalah makhluk ciptaan Allah, sebagaimana malaikat-malaikat yang lainnya.
Hal ini juga dibahas dalam kitab Fathul Majid Bab Fadhlut Tauhid Ma yukaffiru Minadz Dzunuub mulai halaman 57. Menjelaskan bahwa Isa Alaihissalam dinamakan dengan “kalimat” karena dia diciptakan dengan firman Allah “kun”, Isa bukan “kun” tetapi tercipta dengan “kun”. Kun itu dari Allah, sehingga dia bukan makhluk.

Kaum Jahmiyah menyatakan bahwa mereka menemukan ayat dalam Kitabullah yang menjadi bukti bahwa Al Quran adalah makhluk yaitu kata “kalimatuhu”. Karena, masih menurut mereka, kalau menganggap kalimat Allah bukan makhluk berarti sama saja menganggap Isa juga bukan makhluk sama seperti anggapan kaum Kristen bahwa Isa adalah bukan makhluk sebagaimana kalimatuhu juga bukan makhluk.

Jadi kalau tidak faham dengan hal ini, kita seperti kepada dua pilihan yang sama-sama sesat, pemahaman Jahmiyah, yaitu menganggap kalimatuhu makhluk sehingga Isa adalah makhluk, atau pemahaman kaum Kristen, yaitu menganggap kalimatuhu bukan makhluk sehingga Isa juga bukan makhluk.

Beberapa pengertian dari istilah “Kalimat Tuhan” sendiri bisa kita lihat pada ayat al-Qur’an berikut :

Kalimatutul ‘azabi ‘alal kafirin
Telah berlakulah Kalimat azab bagi orang-orang yang kafir – Qs. 39 Az-Zumar : 71

Wa izibtala Ibrohima Robbuhu bi kalimati fa atammahunna
Dan ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa Kalimat dan tetap dilaksanakannyaQs. 2 Al-Baqarah : 124

Dari contoh persamaan ayat tersebut, bisa diperoleh kesimpulan bahwa istilah Kalimat atau firman Tuhan disini berarti Ketetapan Tuhan kepada makhluk-Nya. Sehingga dengan demikian maksud dari ayat 171 An-Nisaa’ yang menyatakan ‘Isa al-Masih merupakan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam adalah Ketetapan atau keputusan Allah atas kelahiran ‘Isa al-Masih dari diri Maryam yang masih perawan, seperti maksud dari ayat berikut ini :

Al-masih putera Maryam itu hanyalah salah seorang Rasul seperti para Rasul sebelumnya – yang pernah ada – dan ibunya adalah orang yang sangat benar – Qs. 5 al-maidah : 75

Para Rasul itu Kami lebihkan setengah mereka dari setengah lainnya Diantaranya ada yang Allah berkenan berbicara langsung dengannya –seperti Musa- Adapula yang Allah tinggikan derajatnya beberapa tingkat. Juga Kami telah memberi kepada ‘Isa putera Maryam beberapa mukjizat (kelebihan) Serta Kami kuatkan dia dengan Ruh yang Suci – Qs. 2 al-Baqarah : 253

Dan keterangan hadits yang lainnya , bersumber dari   Hadist yang diriwayatkan  Abu Hurairah ra., ia berkata:

Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Aku adalah orang yang paling berhak terhadap putra Maryam. Para nabi adalah saudara-saudara seayah. Antara aku dan dia (putra Maryam) tidak ada seorang nabi pun. (Shahih Muslim No.4360)

• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali telah disentuh oleh setan sehingga ia menangis menjerit karena sentuhan setan tersebut kecuali putra Maryam dan ibunya. (Shahih Muslim No.4363)

• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Pada suatu hari Isa putra Maryam melihat seorang lelaki mencuri. Isa lalu bertanya kepada lelaki tersebut: Kamu telah mencuri? Lelaki tersebut menjawab: Tidak, demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia. Selanjutnya Isa berkata: Aku beriman kepada Allah dan aku mendustakan diriku. (Shahih Muslim No.4366)

Kristen mengatakan:
2.LANDASAN QURAN
Perhatikan penggalan kalimat Quran Q 4:157 =
” …. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putera Maryam itu, tidak lain melainkan utusan Allah dan KALIMAHNYA yang Ia [Allah] BERIKAN KEPADA MARYAM DENGAN TIUPAN RUH DARIPADA-NYA [Allah].”

Jawab: Penuding yang menuliskan ayat tersebut diatas saja sudah SALAH..Tidak ada satupun penggalan kalimat yang sama tertulis dalam QS. 4:157 dibawah ini- Silahkan penuding lihat ayat konteks yang sebenarnya – An’Nisaa 4: 157 yang bunyinya:

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً

waqawlihim innaa qatalnaa almasiiha ‘iisaa ibna maryama rasuula allaahi wamaa qataluuhu wamaa shalabuuhu walaakin syubbiha lahum wa-inna alladziina ikhtalafuu fiihi lafii syakkin minhu maa lahum bihi min ‘ilmin illaa ittibaa’a alzhzhanni wamaa qataluuhu yaqiinaan

157. dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah [378]”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa.

[378] Mereka menyebut ‘Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan ‘Isa itu.

 

Keterangan ayat lainnya: “Sebenarnya mereka telah melakukan penghinaan (terhadap Tuhan), mereka yang mengatakan, bahwa Allah ialah Isa al-Masih anak Mariam. Katakan: Siapakah yang dapat merintangi jika Ia hendak membinasakan al-Masih anak Mariam serta ibunya dan setiap orang yang ada di muka bumi ini semua? Kerajaan langit dan bumi serta segala yang ada di antara itu, adalah milik Allah. Ia menciptakan apa yang ada di antara itu, dan Allah Maha Kuasa atas segalanya. Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata: Kami adalah anak-anak Allah dan yang dicintaiNya. Katakan: Mengapa Ia menyiksamu karena dosa-dosamu itu? Sebenarnya kamupun manusia, seperti yang pernah diciptakanNya. Ia mengampuni siapa saja yang dikehendakiNya dan Ia menghukum siapa saja yang dikehendakiNya. Kerajaan langit dan bumi serta segala yang ada di antara itu, adalah milik Allah. Dan kepadaNyalah kembali sebagai tujuan terakhir.” (QS, 5:17-18)

“Sebenarnya mereka telah melakukan penghinaan (terhadap Tuhan), mereka yang mengatakan, bahwa Allah itu al-Masih anak Mariam. Bahkan al-Masih berkata: Hai anak-anak Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Barangsiapa mempersekutukan Allah, Allah akan mengharamkan surga baginya dan tempatnya adalah api neraka. Orang-orang teraniaya itu takkan punya pembela. Sebenarnya mereka telah melakukan penghinaan (terhadap Tuhan) mereka yang mengatakan, bahwa Allah adalah satu dari tiga dalam Trinitas. Tak ada tuhan kecuali Tuhan Yang Satu. Apabila tidak mau juga mereka berhenti (menghina Tuhan), pasti mereka yang telah merendahkan (Tuhan), itu akan dijatuhi siksaan yang memedihkan.” (QS, 5:72-73)

“Dan ingat ketika Allah berkata: Hai Isa anak Mariam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang: mengangkatku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah? Ia menjawab: Maha Suci Engkau, tidak akan aku mengatakan yang bukan menjadi hakku. Kalaupun aku mengatakannya, tentu Engkau sudah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam hatiku, tapi aku tidak mengetahui apa yang ada di dalam Dirimu. Maha Mengetahui Engkau atas segala yang gaib. Tak ada yang kukatakan kepada mereka, selain daripada yang Kauperintahkan kepadaku; supaya mereka menyembah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, dan akulah saksi mereka selama aku berada di tengah-.engah mereka. Tetapi setelah Kauwafatkan aku, Engkau Pengawas mereka dan Engkau pula yang menyaksikan segala sesuatu. Kalau Engkau siksa mereka, mereka adalah hamba-hambaMu, kalaupun Engkau ampuni mereka, Engkau Penguasa Maha Mulia dan Bijaksana.” (QS, 5:116-118)

 

Kristen mengatakan:
Apakah tersirat bahwa Isa diciptakan dalam kandungan Maria ? Tidak!! Tapi Kalimatullah itu dikandung oleh Maria dengan Kuasa Rohullah.
Kata “Al Qoha Ila Maryam” yang diartikan dengan Meniupkannya ke dalam rahim Maryam susunan kalimatnya berbentuk kata kerja transitif (fi’il muta’addi), yaitu kata kerja yang membutuhkan obyek penderita.
Pada ayat ini, subyeknya adalah “Allah”.Kata kerjanya ialah “alqo” (melemparkan). Obyek penderitanya ialah “ha” (Kalimah).
Tepatnya: Allah [God] adalah Subject – Alqo adalah Verb – Kalimatullah adalah Object. Kalimatullah itu dijelmakan dalam Kemanusiaan Yesus, tapi Kalimatullah itu tetap melekat [Qodim] dalam diri Allah. Inilah KeMaha-Hadiran dan KeMaha-Kuasaan Allah. Umat Kristen menamakan Bayi Mesias itu Immanuel [Allah beserta kita].
bandingkan dengan konteks penciptaan Adam, siapapun dengan mudah akan mengerti bahwa ini adalah penciptaan, BUKAN inkarnasi. yg dibuat dari bahan tanah (debu) dan dihembuskan (diberikan) nafas.

Jawab:

Kalimat sebenarnya dari arti Al Qoha Ila Maryam:

  • قالت – (Maryam) berkata
  • ومريم – dan Maryam
  • قالت – dia (Maryam) berkata
  • مريم – Maryam
  • يؤلون – mereka meng-ila (bersumpah tidak akan mendekati)
  • Kata “Al Qoha Ila Maryam” yang diartikan dengan Meniupkannya kedalam rahim Maryamsusunan kalimatnya berbentuk kata kerja transitif (fi’il muta’addi), yaitu kata kerja yang membutuhkan obyek penderita.
    • Pada ayat ini, subyeknya adalah “Allah”.
      Kata kerjanya ialah “alqo” (melemparkan).
      Obyek penderitanya ialah “ha” (Kalimah).

Transitif – Fi’il Muta’addi

  • Fi’il muta’addi adalah fi’il yang membutuhkan adanya objek (kata kerja transitif)

Contoh:

  • فَهِمَ زَيْدٌ الدَّرْسَ (Zaid memahami pelajaran)
  • شَرِبَ مُحَمَّدٌ العَسَلَ (Muhammad minum madu)
  • أَكَلَ عَلِيٌّ الْخُبْزَ (Ali makan roti)
  • Cara Membuat Fi’il Muta’addi
  • 1. Dibuat mengikuti wazan (pola) فَعَّلَ
  • Contoh:
  • حَسُنَ –> حَسَّنَ
  • سَهُلَ –> سَهَّلَ
  • 2. Dibuat mengikuti wazan (pola) أَفْعَلَ
  • Contoh:
  • خَرَجَ –> أَخْرَجَ
  • كَمُلَ –> أَكْمَلَ

Pembagian Fi’il pada Fi’il Muta’addi dan Fi’il Lazim.

الْفِعْلُ : إِمَّا مُتَعَدٍّ , وَهُوَ الَّذِيْ يَتَعَدَّى مِنَ الْفَاعِلِ إِلَى الْمَفْعُوْلِ بِهِ ؛ كَقَوْلِكَ : ضَرَبْتُ زَيْدًا , وَيُسَمَّى أَيْضًا : وَاِقعًا , وَمُجَاوِزًا.

Kalimah Fi’il itu: ada yang Muta’addi, yaitu kalimah fi’il yang melampaui/menjangkau dari Fa’il sampai ke Maf’ul Bih; seperti contoh perkataanmu: ضَرَبْتُ زَيْدًا DHARABTU ZAIDAN “aku memukul pada Zaid”. Dinamakan pula Fi’il Waqi’ (mengena) dan Fi’il Mujaawiz (mencapai).

وَإِمَّا غَيْرُ مُتَعَدٍّ , وَهُوَ الَّذِيْ لَمْ يَتَجَاوَزِ اْلفَاعِلَ إِلَى الْمَفْعُوْلِ بِهِ ؛ كَقَوْلِكَ حَسُنَ زَيْدٌ , وَيُسَمَّى أَيْضًا : لاَزِمًا وَغَيْرَ وَاقِعٍ.

Dan ada yang tidak Muta’addi, yaitu kalimah fi’il yang tidak menjangkaukan Fa’il kepada Maf’ul; seperti contoh perkataanmu: حَسُنَ زَيْدٌ HASUNA ZAIDUN “ Zaid telah baik”. Dinamakan pula Fi’il Lazim (tetap) dan Fi’il Ghair Waqi’ (tidak mengena).

وَتَعْدِيَتُهُ فِي الثُّلاَثِيِّ الْمُجَرَّدِ : بِتَضْعِيْفِ الْعَيْنِ , وَبِالْهمزةِ , كَقَوْلِكَ : فَرَّحْتُ زَيْدًا , وَأَجْلَسْتُهُ , وَبِحَرْفِ الْجَرِّ فِي الْكُلِّ ؛ نَحْوُ ذَهَبْتُ بِزَيْدٍ , وَانْطَلَقْتُ بِهِ.

Cara memuta’addikan Fi’il Lazim di dalam Fi’il Taulatsi Mujarrad yaitu : Dengan men-tadh’if-kan (melipat/mendobelkan) ‘Ain Fi’ilnya, atau dengan Hamzah, contoh perkataanmu: فَرَّحْتُ زَيْدًا FARRAHTU ZAIDAN “aku menggembirakan zaid, dan أَجْلَسْتُهُ AJLASTUHU “aku mendudukkannya”.
Atau dengan huruf jar untuk semua (tsulatsi/ruba’i/mujarrad/mazid), contoh: ذَهَبْتُ بِزَيْدٍ DZAHABTU BI ZAIDIN “aku memberangkatkan zaid”, dan انْطَلَقْتُ بِهِ INTHALAQTU BI HI “aku memberangkatkannya”.

Jadi sudah jelas, yang masuk kedalam tubuh Maryam itu adalah “Kalimah Hawadis” dan bukan “Kalam Qodim”.

Sebab, mustahil Allah memasuki tubuh Maryam. Seandainya peristiwa mustahil ini bisa terjadi, maka susunan kalimatnya memakai kata kerja intransitif (fi’il lazim) sebagai berikut :

Wakola muhu yad ghulu fi Maryam


Artinya: dan Firman-Nya memasuki tubuh Maryam

  • Dan, ketika kami mengatakan mesjid adalah rumah Allah apakah artinya Allah tinggal di sana? Ketika Allah berfirman, “Unta betina Allah.” (Asy-Syam 91:13) Apakah unta itu adalah unta Allah, seperti makna lahirnya?

Seandainya pemahaman untuk ayat ini seperti yang mereka katakan, tentu Nabi Adam adalah anak Allah juga, karena Allah berfirman tentangnya, “Dan Ku-tiupakn kepadanya roh (ciptaan)Ku.” (Shaad 38: 72)

Allah berfirman, “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya.” (As-Sajdah 32:9)

Dalam bahasa, ungkapan seperti ini dinamakan dengan Al-Majaaz, sebagaimana firman Allah tentang Jibril, bahwa dia adalah Ruhul Qudus.

Allah berfirman, “Dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus.” (Al-Baqarah 2:87)

Allah berfirman tentang Al-Quran, “Ruh/wahyu (Al-Quran) dengan perintah kami.” (Asy-Syuuraa 42:52)

 Sesungguhnya sesuatu adalah yang memberinya kehidupan dan membedakannya dari sesuatu yang mati, yang tidak ada kehidupan padanya. Jibril adalah ruh, karena Allah menjadikannya dapat meghidupkan hamba dengan wahyu yang di bawahnya. Al-quran adalah ruh, karena dengannya kehidupan hakiki bagi manusia.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeruh kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu,” (Al-Anfaal 8:24)

Maka, firman Allah tentang Nabi Isa, “Dari ruh Kami,maksudnya adalah ruh ciptaan Kami.

Allah SWT, Berfirman,  Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan[433]. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ( QS. al-Maa’idah (5): 75).

[433]. Maksudnya ialah: bahwa Isa a.s. dan ibunya adalah manusia, yang memerlukan apa yang diperlukan manusia, seperti makan, minum dan sebagainya

Apa yang terjadi dan dialami oleh Maryam ini sudah bukan pada tempatnya lagi untuk didongengkan oleh kaum Nasrani selama ini sebagai cikal bakal kelahiran seorang Tuhan atau anak Tuhan.

“Katakan: ‘Allah itu Satu. Allah itu abadi dan mutlak. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tiada satu apa pun yang menyerupai-Nya.” (QS, 112:1-4) “Tidak sepatutnya bagi Allah akan mengambil anak. Maha Suci Ia.” (QS, 19:35) “Hal seperti terhadap Isa bagi Allah sama seperti terhadap Adam; dijadikan-Nya ia dari tanah lalu dikatakan: jadilah, maka jadilah ia.” (QS, 3:59)

Allah berfirman, “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar . Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam 19: 88-95)

Jadi Penuding yang menuliskan konteks makna ayat tersebut  ternyata tidak mengerti  dan sangat keliru dengan makna lahirnya,  Alias ngawur..

Kristen mengatakan:
Sedangkan An-Nisa 171:
” …. KalimahNya yang Ia BERIKAN KEPADA MARYAM DENGAN TIUPAN RUH DARIPADANYA …. ”
Kalau Anda mau jujur, nats An-Nisa 171 adalah INKARNASI/NUZUL Kalimatullah dalam Kemanusiaan Isa Al Masih, sama sekali BUKAN penciptaan!
BERIKUT KONFIRMASI DALAM QURAN DAN HADITS ISA ADALAH SANG FIRMAN/ALLAH YANG NUZUL….
Isa AS mengatakan perkataan yang benar
“Dzaalika ‘isabnu Maryama qaulal haqqil ladzil fiihi yamtaruum”
Itulah Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenaran-Nya (Maryam, 19:34)

Jawab: Ayat An-Nisaa 171, yang dikutip oleh si penuding tersebut hanya berdasarkan asumsi pemikirannya saja dan tidak merujuk kepada ayat sebenarnya…
An-Nisaa 171, Ayat yang sebenarnya bunyinya begini:

yaa ahla alkitaabi laa taghluu fii diinikum walaa taquuluu ‘alaa allaahi illaa alhaqqa innamaa almasiihu ‘iisaa ibnu maryama rasuulu allaahi wakalimatuhu alqaahaa ilaa maryama waruuhun minhu faaaminuu biallaahi warusulihi walaa taquuluu tsalaatsatun intahuu khayran lakum innamaa allaahu ilaahun waahidun subhaanahu an yakuuna lahu waladun lahu maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wakafaa biallaahi wakiilaan

171. Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu [383], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya [384] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya [385]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

[383] Maksudnya : janganlah kamu mengatakan Nabi ‘Isa a.s. itu Allah, sebagai yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani. [384] Lihat not 193. [385] Disebut tiupan dari Allah karena tiupan itu berasal dari perintah Allah.

Jelas sekali, si penuding hanya berasumsi saja bahkan asal tulis.  Dan ayat yang saya tuliskan diatas sudah sangat benar menginformasikan kepada manusia bahwa Isa adalah utusan bukan Allah.

Sedangkan pada surat Maryam 19:34 yang bunyinya:

 

dzaalika ‘iisaa ibnu maryama qawla alhaqqi alladzii fiihi yamtaruuna

34. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.

Benar Isa mengatakan tentang “kebenaran“ tetapi kebenaran yang  Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, sebagaimana sambungan ayat 34 sampai 36 yang bunyinya:

maa kaana lillaahi an yattakhidza min waladin subhaanahu idzaa qadaa amran fa-innamaa yaquulu lahu kun fayakuunu

35. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia

wa-inna allaaha rabbii warabbukum fau’buduuhu haadzaa shiraathun mustaqiimun

36. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.jadilah ia.

Jadi jelaslah sudah Allah Maha Suci dan tak layak punya anak sebagaimana keterangan ayat diatas tersebut.

Kristen mengatakan:
Isa AS adalah Roh Allah yang menjelma menjadi Manusia yang sempurna
“arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fa tamatstsala lahaa basyaran sawiyya.”
Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya menjadi Manusia yang sempurna (Maryam, 19:17)
Isa AS dilahirkan bukan dari bapa Insani, tetapi dari Roh Allah
“Wallatii ahshanat farjahaa fa nafakhnaa fiihaa mir ruuhinaa Wa ja’alnaahaa wabnahaa ayatal lil ‘aalamiin”
Ingatlah kisah seorang perempuan yang memelihara kehormatannya (Maryam) lalu Kami tiupkan kepadanya Roh Kami (Roh Allah) dan Kami jadikan dia dan Anaknya tanda (kuasa Allah) bagi semesta alam. (Al Anbiyaa, 21:91)

Jawab:

Maryam 19:17 bunyinya begini= faittakhadzat min duunihim hijaaban fa-arsalnaa ilayhaa ruuhanaa fatamatstsala lahaa basyaran sawiyyaan

17. maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami [901] kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

[901]. Maksudnya: Jibril a.s.

Disambung dengan ayat lain yang bunyinya:

qaalat innii a’uudzu bialrrahmaani minka in kunta taqiyyaan

18. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.

qaala innamaa anaa rasuulu rabbiki li-ahaba laki ghulaaman zakiyyaan

19. Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

qaalat annaa yakuunu lii ghulaamun walam yamsasnii basyarun walam aku baghiyyaan

20. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”

Jadi si penuding tersebut  keliru dalam memahami konteks ayat itu..

Sedangkan ayat Al-Anbiyaa 21:91: bisa di baca pada keterangan pada link dibawah ini:

 

https://bin99.wordpress.com/tanyajawab/isa-adalah-anak-allah/

Dan Maha Suci Allah dari sekutu dan anak:  QS. 2:22, 2:116, 3:18, 3:79, 3:80, 4:171, 6:100, 6:101, 10:68, 13:30, 14:30, 16:17, 16:20, 16:21, 16:57, 17:40, 17:42, 17:43, 17:111, 18:4, 19:35, 19:89, 19:90, 19:92, 21:17, 21:22, 21:26, 23:91, 25:2, 26:98, 26:213, 27:59, 27:60, 27:61, 27:62, 27:63, 27:64, 28:68, 34:22, 34:27, 34:33, 35:40, 37:4, 37:152, 37:153, 37:158, 37:159, 37:180, 39:4, 41:9, 43:19, 43:81, 43:82, 52:39, 52:43, 53:23, 53:27, 72:3, 72:20, 112:1, 112:3, 112:4

Dan sifat Allah berbeda dengan Makhluknya: QS. 6:91, 6:101, 6:103, 17:111, 19:65, 20:5, 20:50, 21:23, 25:59, 28:88, 30:27, 35:41, 39:67, 42:11, 55:27, 112:1, 112:2, 112:3, 112:4

Dan Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib: QS. 3:179, 5:116, 6:50, 7:188, 10:20, 11:31, 11:49, 19:78, 27:65, 34:14, 52:41, 53:35, 68:47, 72:26

Kristen mengatakan:

Hadist Shahih Bukhari jilid III hal. 208 ayat 1493.
Semua anak Adam yang lahir sudah disentuh setan, kecuali Isa Putera Maryam.
Hanya Isa yang tidak dapat disentuh SETAN…mengapa?Krn Isa adalah TUHAN..ok2….
Hanya Isa Anak Maryam yang langsung masuk Syurga kerana Dia suci. (Maryam, 19:19)=>SUCI=ZAKKIYAH=FITRI
Q 19:19
Transliteration
Qala innama ana rasoolurabbiki li-ahaba laki ghulaman zakiyya(=>SUCI SEPENUHNYA)
Sahih International
He said, “I am only the messenger of your Lord to give you [news of] a pure boy.”

ADAKAH MANUSIA SUCI???ALQURAN MENCATAT TIDAK ADA MANUSIA YANG BISA LUPUT DARI DOSA-DOSA KECIL…TERMASUK SAAT MANUSIA ITU DALAM JANIN….[Q 53:32]
Q 53:32
Transliteration
Allatheena yajtaniboona kaba-iraal-ithmi walfawahisha illa allamama innarabbaka wasiAAu almaghfirati huwa aAAlamu bikum ithanshaakum mina al-ardi wa-ith antum ajinnatun feebutooni ommahatikum fala tuzakkoo anfusakumhuwa aAAlamu bimani ittaqa

Jawab: Hadits yang sebenarnya bunyi seperti ini :

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali telah disentuh oleh setan sehingga ia menangis menjerit karena sentuhan setan tersebut kecuali putra Maryam dan ibunya. (Shahih Muslim No.4363)

Maksud ayat, QS, An Najm: 32 adalah BAHWA  SEMUA MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB ATAS PERBUATANNYA MASING-MASING

karena setiap bayi yang lahir adalah suci, sebagaimana keterangan dalam hadits:

Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)

Jika penuding mengatakan hanya Isa saja (bayi yang suci) tanpa dosa..

Apakah setiap orang yang tidak berdosa itu menjadi Tuhan? Kalau begitu anak-anak adalah Tuhan, karena mereka tidak berdosa, begitu juga orang gila dan orang yang hilang kesadarannya.

Rasulullah bersabda, “Qalam diangkat dari tiga golongan: orang gila yang hilang akalnya sampai dia sembuh, orang tidur sampai dia terjaga dan anak kecil sampai dia bermimpi basah.” (Kitab Shahih Al-Jami:3512)

So, kalau Isa adalah Tuhan : Dalam hadits syafa’at uzhma menyebutkan, Lantas kenapa Isa menyuruh mereka mendatangi Nabi Kami? Seandainya Nabi Isa adalah Tuhan, kenapa manusia meminta syafa’at kepadanya dan tidak meminta ampunan? Bagaimana bisa dia dikatakan sebagai Tuhan sementara dia Ikut berdiri bersama manusia dipadang mahsyar, bahkan dia berkata, “Diriku, diriku.” (Maksudnya, dia pun belum tahu apakah dirinya selamat atau tidak?) Kenapa Nabi Adam tidak menunjukkan kepada manusia untuk mendatangi Nabi Isa langsung, apakah Nabi Adam tidak mengetahuinya? Sesungguhnya Al-Masih sendiri tidak mengaku sebagai Tuhan. (Bukan setiap orang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan surge, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang disurga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!)

Sedangkan dalam alkitab mereka sendiri mengatakan dalam (Perjanjian Baru) secara jelas dapat kita ketahui bahwa hamba-hamba Tuhan itu terbagi ke dalam dua macam yang jahat dan ada yang baik. Orang yang mengatakan semua manusia itu berdosa, berarti dia mendustakan keterangan-keterangan Perjanjian Baru yang jelas tersebut. Injil mengatakan:

  1. “Sebab aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Matius 13:17).
  2. “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45).
  3. “Seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabiNya yang kudus” (Lukas 1:70).
  4. “Sebab tidak pernah nubuwat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah” (Surat Petrus Yang Kedua 1:21).
  5. “Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar” (Lukas 13:28).
  6. “Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya” (Surat Yohanes Yang Pertama 5:18).
  7. “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga ………. Sebab demikian juga yang teraniaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10-12).

Pertama:

Ayat-ayat di atas secara gamblang mengungkapkan bahwa para nabi itu suci, tak berdosa. Mereka telah diciptakan oleh Allah dan adalah penghuni KerajaanNya. Syaitan tidak pernah menyentuh mereka. Mereka dianiaya demi mempertahankan ketakwaan mereka. Adalah jelas, orang yang mencapai martabat rohani seperti itu tidak mungkin berbuat dosa. Syaitan juga tak pernah mampu mengungguli mereka. Bagaimanapun juga, orang yang suka bertengkar sekalipun, dengan adanya keterangan ayat-ayat ini, akan mengakui bahwa di kalangan Bani Adam (manusia keturunan Adam) terdapat orang-orang yang berdosa dan jahat dan ada pula orang-orang yang saleh. Tidak seluruhnya jahat dan berbuat dosa. Sekalinya kita menerima kebenaran ini, maka akidah Kristen menjadi batal dan bangunan anggun Penebusan Dosa menjadi berantakan.

Kedua:

Allah Swt. menjadikan dan mengutuskan para nabi sebagai teladan dan panutan yang terbaik. Mereka datang memberi pelajaran kepada manusia lewat imbauan. Dikatakan;….Namun bertahun-tahun lamanya Engkau melanjutkan sabarMu terhadap mereka. Dengan RohMu Engkau memperingatkan mereka” (Nehemia 9:30).

Sekarang, sekiranya nabi sendiri terlibat dalam perbuatan jahat, bagaimana mungkin mereka dapat menjadi teladan dan contoh untuk orang-orang lain dan menjadi pengawas mereka? Jelas, apabila para nabi dikatakan berdosa, hal demikian berarti nubuwatan-nubuwatan mereka dusta; dan ini jelas tidak benar dan akidah bahwa semua nabi berdosa juga batal (gugur).

Ketiga:

Kitab Suci Bibel menjadi saksi bahwa banyak sekali orang saleh dan suci telah berlalu. Mereka sepanjang hidupnya tunduk kepada Allah dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Mereka tidak pernah membangkang. Saya akan menyebutkan beberapa di antara orang-orang suci itu:
1. Yohanes (Yahya) Pembaptis dikatakan oleh Bibel sebagai orang suci dan berakhlak yang tak bernoda. Coba baca ayat-ayat berikut:

  1. “Sebelum ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya” (Lukas 1:15).
  2. “Tangan Tuhan menyertai dia” (Lukas 1:66).
  3. “Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel” (Lukas 1: 80).
  4. “Sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melingunginya” (Markus 6:20).
  5. “Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis’” (Markus1:4).
  6. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripadanya’” ( Matius 11:11)
  7. “Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: ‘Ia kerasukan setan’. Kemudian anak mereka berkata: ‘Manusia datang. Ia makan dan minum, dan mereka berkata: ‘Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum. Sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya’” (Matius 11: 18).
  8. “Pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakaria, di padang gurun” (Lukas 3:2).

Dari ayat-ayat ini terbukti bahwa Yohanes (Yahya) adalah seorang suci dan bersih dari dosa. Ia seorang yang menerima wahyu Tuhan. Tangan Tuhan di atas tangannya dan dia sejak di dalam rahim ibunya sudah dipenuhi oleh Roh Kudus. Lagi pula dia pembaptis orang-orang yang berdosa untuk bertobat dan untuk menyelamatkan manusia yang penuh dosa. Dia terbesar dari antara orang-orang yang dilahirkan dari rahim perempuan. Mungkinkah insan seperti ini orang berdosa? Saya berpendapat tak akan ada orang Kristen yang berakal akan menetapkan Yohanes atau Yahya orang berdosa, terutama setelah terbukti bahwa Isa Almasih dibaptis secara khusus oleh Yohanes sendiri. Saya menyampaikan tantangan kepada semua orang Kristen untuk membuktikan berdasarkan Bibel bahwa Yohanes itu berdosa.

2. Habel anak Adam. Habel juga seorang suci dan benar dalam tiap perbuatannya. Tidak pernah melakukan perbuatan dosa. Dalam Perjanjian Baru dikatakan:

  1. “Supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakaria anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah” (Matius 23:55).
  2. “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik itu dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati” (Ibrani 11:4).
  3. “Bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya dia membunuh? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar” (Yohanes 3:12).

3. Daniel a.s.: Menurut Bibel Nabi Daniel juga tidak berdosa. Malahan, sebaliknya dari itu, kebersihannya dari dosa didiukung oleh adanya kesaksian-kesaksian. Di dalam Bibel dikatakan tentang Daniel:

  1. a. “Pada akhirnya Daniel datang menghadapku, yakni Daniel yang dinamai Beltsazar menurut nama dewaku, dan yang penuh dengan roh para dewa yang kudus” (Daniel 4:8).
  2. b. “Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya” (Daniel 6:4).

4. Raja Nebukadnezar: “Berkatalah ia kepada Daniel: ‘Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kau sembah dengan tekun, telah sanggupkan ia melepaskan engkau dari singa-singa itu’? Lalu kata Daniel kepada raja: ‘Ya Raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikatnya untuk mengatupkan mulut-mulut singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapanNya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan” (Daniel 6:21-23).

5. Tentang Yusyah: Di dalam Perjanjian Lama dikatakan: “Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri” (II Raja-raja 22:2).

6. Zakharia dan isterinya: Tentang keduanya dalam Injil ditulis: “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak tercacat” (Lukas 1:6).

7. Raja Hizkia: Bibel menyebut tentang raja ini:

  1. “Ia percaya kepada TUHAN, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia. Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang kepada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkanNya kepada Musa. Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya” (II Raja-raja 18:57).
  2. “Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdo’a kepada TUHAN, ia berkata: “Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu” (Yesaya 38:2,3).

8. Samson bin Monaheh: Sebelum lahir malaikat telah memberikan kepada ibunya kabar suka tentang kelahirannya dalam kata-kata yang terang dan jelas sebagai berikut:

“Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram. Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya sampai pada hari matinya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah” (Hakim-Hakim 13:4-7).

9. Samuel Nabi: Di hadapan seluruh Bani Israel mengemukakan kesuciannya sebagai tantangan menguji kebenarannya dan orang-orang menjadi saksi atas kesuciannya itu seperti berikut:

“Di sini aku berdiri, berikanlah kesaksian menantang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang ku-urapiNya…Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu” Jawab mereka: “Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapapun.” Lalu berkatalah ia kepada mereka “TUHAN menjadi saksi kepada kamu dan orang yang diurapiNya pun menjadi saksi kepada kamu, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku.” Jawab mereka: “Dia menjadi saksi” (Samuel 12:3-5).

10. Simon. Penulis Lukas mengatakan tentang dia: “Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya” (Lukas 2:25).

11. Yusuf, suami Maryam. Tentang dia Injil menyebutnya dengan kata suci Dikatakan: “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulis hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (Matius 1:19).

Saya mengemukakan nama-nama tokoh-tokoh tersebut di atas sebagai sekadar contoh. Masih banyak yang lain, Nuh, Daniel, dan Ayub a.s.; tentang mereka dikatakan:

“Hai anak manusia, kalau sesuatu negeri berdosa kepadaKu dengan berobah setia dan Aku mengacungkan tanganKu melawannya dengan memusnahkan persediaan makanannya dan mendatangkan kelaparan atasnya dan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel, dan Ayub, mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (Yehezkiel 14:13,14).

Selain itu dalam Alkitab pun mengatakan tentang Adam yang berbuat dosa, lalu keturunannya menanggung beban dosa sampai kiamat. Dalam Bibel tegas-tegas dikatakan:

  1. “Jangan ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri” (Ulangan 24:16).
  2. “Tetapi anak-anak mereka tidak dihukum mati olehnya, melainkan ia bertindak sesuai dengan apa yang tertulis dalam Taurat, yakni kitab Musa, di mana TUHAN telah memberi perintah: ‘ Janganlah ayah mati karena anaknya, melainkan setiap orang harus mati karena dosanya sendiri.” (II Tawarikh 25:4).
  3. “Pada waktu itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu, melainkan: Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap orang yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu” (Yeremia 31:29,30).
  4. “Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.” (Yehezkiel 18:4).
  5. “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. Tetapi jkalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapanKu serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia idak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya” (Yehezkiel 18:20-22).

Terus jika dikatakan Al-masih maksum (tidak mempunyai dosa) si penuding pasti berpendirian Maryam itu bebas dosa?

Ini bukanlah jawaban yang berarti. Kalau di dalam kepercayaan Kristen, dosa itu dikaitkan kepada peristiwa Adam hanya semata-mata oleh karena mereka keturunan Adam, mengapakah Isa Almasih oleh karena dosa ibunya tidak berdosa? Baiklah, mari kita teruskan. Hawa makan buah pohon terlarang bersama-sama Adam. Tetapi, menurut Bibel, dosa Hawa lebih besar karena dialah yang mula-mula makan buah itu. Adam kemudian digoda untuk makan juga. Dikatakan:

“Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya” (Kejadian 3:6).

Rasul Paulus mengatakan: “Lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh dalam dosa” (I Timotius 2:14).

Di sini jelas bahwa dosa Hawa dibanding Adam dua kali lebih besar. Kalau landasan akidah Kristen dianggap benar, maka anak yang lahir dari benih laki-laki dan perempuan dia akan dapat separu dari dosa laki-laki dan separu dari dosa bagian perempuan. Berarti dia berdosa tingkat menengah. Tetapi anak yang lahir dari seorang perempuan saja dia akan mewarisi seluruh bagian dosa. Dalam kata-kata yang lain, anak yang lahir dari seorang perempuan semata bukannya jadi bebas dosa, malahan dosanya lebih besar dibanding anak-anak yang lain.

Kategori:halaman
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: