tata cara mandi junub

pertanyan :
Sabrina Ulfa 01 Juli jam 3:56
maaf bintang, kalau tidak mengganggu, saya mau tanya (ini ada yang tanya ke saya) tapi saya tidak tahu.

mengenai tata cara mandi Junub, apakah perlu wudlu? – dan kalau sudah mandi biasa apakah butuh wudlu juga? bukankah mandi lebih bersih dari wudlu? maaf, saya tidak tahu, saya perempuan masih kecil nih, makasih, wasss

Tanggapan

Bintang Asy Syura 01 Juli jam 5:43

Adapun urutan-urutan tata cara mandi junub, adalah sebagai berikut

1. Mencuci kedua tangan dengan tanah atau sabun lalu mencucinya sebelum dimasukan ke wajan tempat air
2. Menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri
3. Mencuci kemaluan dan dubur.
4. Najis-najis dibersihkan
5. Berwudhu sebagaimana untuk sholat, dan menurut jumhur disunnahkan untuk mengakhirkan mencuci kedua kaki
6. Memasukan jari-jari tangan yang basah dengan air ke sela-sela rambut, sampai ia yakin bahwa kulit kepalanya telah menjadi basah
7. Menyiram kepala dengan 3 kali siraman
8. Membersihkan seluruh anggota badan
9. Mencuci kaki

Rukun dan Sunnah Mandi Janabah

Lalu para ulama memilah mana yang merupakan pokok (rukun) dalam mandi janabah, sehingga tidak boleh ditinggalkan, mana yang merupakan sunnah sehingga bila ditinggalkan tidak merusak sah-nya mandi janabah itu.

A. Rukun

Untuk melakukan mandi janabah, maka ada 3 hal yang harus dikerjakan karena merupakan rukun/pokok:

1. Niat.

Sabda Nabi SAW: Semua perbuatan itu tergantung dari niatnya. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Menghilangkan Najis Kalau Ada di Badan

Menghilangkan najis dari badan sesunguhnya merupakan syarat sahnya mandi janabah. Dengan demikian, bila seorang akan mandi janabah, disyaratkan sebelumnya untuk memastikan tidak ada lagi najis yang masih menempel di badannya.

Caranya bisa dengan mencucinya atau dengan mandi biasa dengan sabun atau pembersih lainnya. Adapun bila najisnya tergolong najis berat, maka wajib mensucikannya dulu dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.

3. Meratakan Air Hingga ke Seluruh Badan

Seluruh badan harus rata mendapatkan air, baik kulit maupun rambut dan bulu. Baik akarnya atau pun yang terjuntai. Semua penghalang wajib dilepas dan dihapus, seperti cat, lem, pewarna kuku atau pewarna rambut bila bersifat menghalangi masuknya air.

Sedangkan pacar kuku (hinna”) dan tato, tidak bersifat menghalangi sampainya air ke kulit, sehingga tetap sah mandinya, lepas dari masalah haramnya membuat tato.

B. Sunnah-sunnah yang Dianjurkan dalam Mandi Janabah:

Membaca basmalah.
Membasuh kedua tangan sebelum memasukkan ke dalam air
Berwudhu` sebelum mandi Aisyah RA berkata,`Ketika mandi janabah, Nabi SAW berwudku seperti wudhu` orang shalat. (HR Bukhari dan Muslim).
Menggosokkan tangan ke seluruh anggota tubuh. Hal ini untuk membersihkan seluruh anggota badan.
Mendahulukan anggota kanan dari anggota kiri seperti dalam berwudhu”.

kalau mengikuti tata cara mandi wudhu yang sempurna sebagaimana Rosululloh pernah melakukan, maka hakikatnya di dalam mandi junub itu sudah terangkum gerakan wudhu:
“Dari Aisyah RA. dia berkata: Kebiasaan Rosululloh SAW jika beliau mandi junub adalah: Beliau memulainya dengan mencuci kedua tangan beliau, kemudian beliau menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri lalu mencuci kemaluanya, kemudian beliau berwudhu seperti wudhu untuk sholat, kemudian beliau mengambil air lalu memasukkan jari-jemarinya ke semua pangkal rambut. Sampai setelah beliau memandang bahwa airnya sudah merata mengenai semua rambut beliau, beliau lalu menyiram kepalanya sebanyak tiga kali tuangan, kemudian beliau mencuci seluruh tubuh beliau, kemudian akhirnya mencuci kedua kaki beliau.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

atau dalam hadits lain,
“Dari Maimunnah binti Al-Harits RA. dia berkata: Aku pernah membawa air mandi untuk junub kepada Rosululloh SAW. Lalu beliau memulai dengan membasuh dua telapak tangannya sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam wadah berisi air, lalu menuangkan air tersebut pada kemaluan beliau, dan beliau mencucinya (kemaluan) dengan tangan kiri. Setelah itu, beliau menggosokkan tangan kiri ke tanah dengan gosokan yang kuat. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat (dalam riwayat lain disebutkan: ‘Kemudian beliau berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung, kemudian beliau mencuci wajahnya dan kedua lengannya (tangannya sampai siku)’). Kemudian beliau menuangkan air ke kepala beliau sebanyak tiga kali sepenuh telapak tangan, lalu beliau mencuci seluruh tubuhnya. Kemudian beliau bergerak mundur dari tempat beliau berdiri, lalu beliau mencuci kedua kakinya. Kemudian aku mengambilkan handuk untuk beliau, tetapi beliau menolaknya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

sehingga setelah mandi junub (tentu harus diniatkan untuk mandi junub) itu, kalaupun ingin sholat maka sholatnya tetap sah meskipun tidak lagi dimulakan dengan berwudhu. sebagaimana hadits dari Aisyah RA:
“Rosululloh SAW mandi kemudian sholat dua rakaat dan sholat shubuh, dan saya tidak melihat beliau berwudhu setelah mandi.”
(HR. Abu Daud, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah)

namun, sebagian ulama yang lain ada yang mengatakan, bahwa hakikat mandi junub adalah sekedar menuangkan air ke seluruh tubuh. Sehingga bagaimanapun caranya (maksudnya tidak perlu mengikuti tata cara mandi junub yang sempurna seperti diatas), dia telah menunaikan kewajiban mandi junub & kembali suci sebagaimana perintah Alloh:
“Dan kalau kalian junub maka bersucilah.”
(QS. Al-Ma’idah, 005:006)

ini juga pernah Rosululloh sampaikan ketika Ummu Salamah bertanya kepada Rosululloh tentang mandi junub:
“Wahai Rosululloh, sesungguhnya saya adalah wanita yang mempunyai gulungan rambut yang tebal, apakah saya harus membukanya saat mandi junub?” Beliau SAW. menjawab, “Tidak perlu, yang wajib atas kamu hanyalah menuangkan air di atas kepalamu sebanyak tiga kali tuangan kemudian kamu menuangkan air ke seluruh tubuhmu. Maka dengan itu kamu telah suci.”
(HR. Muslim)

namun untuk cara mandi junub yang mujzi’ (sekedar menunaikan yang wajib) ini jika Anda ingin sholat, maka Anda harus berwudhu terlebih dahulu. karena dalam mandi junub itu belum ada ritual wudhu yang Anda lakukan.

sehingga kesimpulannya, ada/tidaknya wudhu di dalam mandi junub itu adalah untuk kepentingan sholat semata, bukan menjadi syarat sah/tidaknya mandi junub tersebut sebagaimana kedudukan niat.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: