Beranda > halaman > Mukjizat Rasulullah Saw

Mukjizat Rasulullah Saw


Mukjizat Rasulullah saw. sangat berlimpah. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Seorang Yahudi datang dan berkata kepada Nabi Muhammad saw., “Dimana Tuhanmu?” dan Nabi Muhammad saw. menjawab, “Kebijakan dan KekuatanNya ada di mana-mana, tapi dia sendiri tidak ada pada suatu tempat tertentu.” “Bagaimanakah Ia?” Orang tersebut menambahkan. Nabi Muhammad saw. berkata, “Bagaimana mungkin aku menjelaskan bagaimana Ia, sedangkan Ia tidak memiliki sifat-sifat makhluk?” Orang Yahudi tersebut mengakhiri dengan meminta bukti Muhammad adalah nabi. Seketika itu juga batu-batu dan semua benda lain menyatakan bahwa Muhammad adalah Nabi Allah, lalu orang Yahudi tersebut menjadi seorang muslim.

2) Suatu hari seorang Arab berkata, “Siapa ini?” Rasulullah, jawab mereka. “Demi Latta dan ‘Uzza,” Jawab orang tersebut, “Kau adalah musuh terbesarku, dan agar kaumku tidak menyebutku lamban, kubunuh kau.” “Berimanlah,” kata Nabi saw. Orang Arab tersebut melempar kadal hijau dari lengan bajunya, dan berkata, “Aku tidak akan beriman sampai kadal ini beriman.” Tiba-tiba kadal itu dalam bahasa Arab yang elok berseru, “Wahai hiasan dari semua yang akan dikumpulkan pada hari pembalasan, kau akan memimpin orang-orang yang ikhlas ke surga.” “kepada siapa kamu menyembah?” kata Nabi saw.. Kadal tersebut menjawab, “kepada Tuhan yang menguasai melebihi segala, Yang Maha Tahu, dan telah menjadikan api sebagai alat penghukumnya.” “Siapa aku?” Muhammad saw. melanjutkan. Kadal tersebut menjawab, “Engkau adalah utusan Tuhan semesta alam, dan penutup para nabi. Bahagialah orang yang mengenalmu, dan tiada harapan orang yang mengingkarimu. “Tidak ada bukti yang lebih jelas daripada ini,” Kata orang Arab tersebut, “dan walaupun aku datang ke sini menganggapmu musuh terbesarku, aku sekarang mencintaimu lebih dari hidupku, ayahku, atau ibu. Kemudian dia mengulangi syahadatnya, menjadi Muslim, dan kembali ke Bani Salim, asalnya, kemudian lebih membawa seribu orang lebih untuk memeluk Islam.

3) Suatu hari Muhammad bertanya kepada seorang Mukmin bagaimana dia menganggap saudara seimannya. Dia mengatakan bahwa dia menganggap mereka seperti dirinya sendiri; senang dan susah mereka adalah senang dan susah dirinya. Kau adalah kekasih Allah, kata Nabi saw., kau akan jadi orang yang lebih kaya dari yang lain dengan menyampaikan shalawat kepada Muhammad, Ali, dan keluarganya. Suatu hari Abu Bakar dan Umar menemuinya di pasar. Umar berkata kepadanya, “pekerjaan apa yang telah kau lakukan?” “Aku tidak punya apapun untuk dijual,” jawabnya, “tetapi selalu bersalawat kepada Muhammad dan keluarganya.” Umar mengatakan bahwa itu tidak ada gunanya, ketika pulang hanya akan menemukan masalah, kelaparan, dan kesusahan, dan malaikat yang memberikan lapar dan haus kepada Muhammad akan siap melayaninya. Orang tersebut bersumpah bahwa siapapun yang mempercayainya akan menerima rahmat yang agung.

Seorang tukang ikan lewat. Umar dan Abu Bakar menyuruhnya menjual ikannya kepada orang tersebut. Umar dan Abu Bakar mengatakan, “Beli ikan itu, dan Nabi saw. akan membayarnya.” Orang tersebut mengambil ikan itu. Tukang ikan kemudian meminta Nabi saw. untuk membayarnya, dan diberi satu dirham. “Ini beberapa kali lipat harga ikan tersebut,” katanya sambil pulang. Mukmin tersebut lalu menemukan dua batu berharga di dalam ikan itu seharga dua ratus dirham. Abu Bakar dan Umar menyuruh tukang ikan untuk menuntutnya. Setelah mukmin tersebut memberikan dua batu itu kepada tukang ikan, batu itu berubah menjadi kalajengking dan menyengatnya. Dan kalajengking itu pun dibuang. Ini tidak aneh, kata Abu Bakar dan Umar. Mukmin tadi menemukan dua batu lagi di ikan tersebut. Abu Bakar dan Umar memaksa tukang ikan untuk mengambilnya. Tapi sebelum itu dua batu itu berubah menjadi dua ular, yang menggigitnya. Dia berteriak dan berkata kepada muslim tersebut, ambil ini! Aku tidak membutuhkannya. Mukmin tadi mengambil ular itu dan ular itu kembali menjadi batu berharga.

4) Suatu hari sekelompok orang Yahudi menemui Rasulullah saw., Malik bin as-Sayf, satu dari mereka, berkata “Engkau meyatakan dirimu adalah Utusan Allah, namun aku tidak percaya pada misimu hingga permadani yang aku duduki menyaksikan kenabianmu.” Sedangkan Abu Lababah, seorang Yahudi yang lain dalam kelompok tersebut, menyatakan bahwa ia tidak akan percaya hingga cemeti yang ia pegang di tangannya memberikan kesaksian yang serupa. Seorang Yahudi yang lain Ka’ab bin al-Asyraf menyatakan hal yang serupa dengan rekan-rekannya hingga keledainya menyaksikan kebenaran Nabi.

Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah bagi hamba Yang Maha Tinggi, setelah bukti mukjizat misi mereka telah dikaruniakan pada mereka, untuk menganggap diri mereka sendiri menunjukkan bukti seperti yang kamu inginkan. Sebaliknya, mereka harus merendah pada Tuhan dan menaatiNya, dan ridha dengan apa yang ingin Ia Karuniakan pada mereka. Namun bukankah penjelasan tentang aku dan kenabianku yang ada dalam Taurat, Injil dan suhuf Ibrahim cukup untuk meyakinkanmu kebenaran pernyataanku?”

“Dan tidakkah kamu menemukan bukti dalam kitab-kitab tersebut bahwa Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku, penerusku, khalifah dan ciptaan terbaik setelah aku? Tidakkah cukup bagimu bahwa Allah telah menganugerahkan kepadaku suatu mukjizat yang demikian jelas sepeti Qur’an yang seluruh manusia bersama-sama tidak ada yang mampu membuat (serupa dengan Qur’an)?

“Saya tidak berani memohon pada Tuhanku untuk memberikan keinginan-keinginanmu yang tidak masuk akal, namun aku tegaskan bahwa bukti-bukti mukjizat misiku yang Ia telah kehendaki terwujud, adalah cukup memuaskanku dan meyakinkanmu. Jika sekarang Ia berkehendak menganugerahkan apa yang engkau minta, itu adalah dari ketakterhinggaan karuniaNya padaku dan padamu! Jika Ia tidak memenuhi keinginan-keinginanmu, itu adalah karena hal tersebut adalah sia-sia, terutama karena Ia telah membawakan bukti yang lengkap bagi keimanan.
Rasulullah saw. belum lama selesai menyelesaikan sabdanya, maka kemudian dengan kekuatan Ilahiah, permadani yang diduduki oleh Malik bin as-Sayf berbicara dan berkata:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Satu Tuhan Yang Maha Indah, yang tidak memiliki sekutu, (namun) Sendiri dalam mencipta dan mengatur segala sesuatu. Kepadanya seluruh maujud bergantung, sedangkan Ia bebas dari ketergantungan terhadap apa pun. Baginya perubahan dan kerusakan adalah mustahil. Ia tak memiliki istri, tak memiliki anak, dan tiada yang menemaniNya dalam kerajaanNya (KekuasaanNya). Dan aku bersaksi bahwa engkau, wahai Muhammad, adalah hambaNya dan utusanNya yang telah Ia utus sebagai petunjuk agama, dan nabi dari keimanan yang benar, dan yang Ia ingin menangkan di atas seluruh agama lain, walaupun orang-orang yang musyrik tidak menyukainya. Dan aku juga bersaksi bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah saudaramu, penerusmu dan khalifah ummatmu, dan makhluk terbaik setelahmu.

Barangsiapa mencintainya mencintaimu, dan musuhnya adalah juga musuhmu. Barangsiapa menaatinya menaatimu, barangsiapa melawannya melawanu, dan barangsiapa menaatimu menaati Allah, dan layak memperoleh kebahagiaan dan keridhaanNya. Barangsiapa tidak menaatimu, tidak menaati Allah dan akan memperoleh siksa neraka yang paling pedih.”Menyaksikan permadani tersebut bersaksi seperti itu, orang-orang Yahudi tersebut tercengang. Namun mereka mengatakan bahwa kejadian tersebut hanyalah sihir yang nyata.

Pernyataan tersebut membuat permadani tersebut naik dan membuang orang-orang Yahudi yang duduk di atasnya, dan dengan kekuatan Ilahiah kembali permadani tersebut berbicara dan berkata:
“Yang Maha Tinggi mengaruniakan kepadaku bahwa aku adalah sebuah permadani, dan Ia membuatku bersaksi atas KetunggalanNya dan KeagunganNya, dan bersaksi bahwa NabiNya Muhammad adalah Nabi yang paling utama, dan utusan bagi semua makhluk dan dibangkitkan dalam keadilan dan kebenaran bersama hamba-hamba Allah. (Ia membuatku) juga bersaksi atas imamah saudaranya, penerusnya dan wazirnya, dan diciptakan dari cahayanya, temannya, kepercayaannya, dan pengemban amanahnya, pelaksana janji-janji Muhammad, penolong teman-temannya, dan menakluk musuh-musuhnya.

“Aku taat pada ia yang Muhammad telah menunjuknya sebagai Imam, dan membenci musuhnya. Oleh karena itu, tidaklah layak orang-orang kafir menginjakku dan duduk di atasku, tidak ada yang layak melakukan itu padaku kecuali mereka yang beriman pada Allah, rasulNya dan penerusnya.” Maka Nabi saw. memerintahkan pada Salman, Abu Dzar, Miqdad, dan Amir duduk di atas permadani tersebut, dan berkata, “Engkau telah beriman pada apa yang elah disaksikan olehnya.”
Kemudian Ia Yang Maha Tinggi berturut membuat cemeti di tangan Abu Lababah maupun keledai Ka’ab bin al-Asyraf berbicara dan bersaksi atas KetuggalanNya, kenabian Rasulullah Muhammad saw. dan imamah Imam ‘Ali bin Abi Thalib as.. Namun mereka semua tetap tidak beriman pada kebenaran Rasulullah saw!

Setelah orang-orang Yahudi tersebut pergi maka turunlah ayat:

“Sesungguhnya orang-orang kafir (ingkar) sama saja bagi mereka kamu peringatkan atau tidak kauperingatkan, mereka tak beriman.” (QS 2(AL-BAQARAH):6)

5) Dalam sebuah pertempuran, pedang Ukasyah bin Mihsan ra. patah, lalu Rasulullah memberinya sebatang kayu yang menjadi pedang.

6) Pada suatu ketika seseorang mendekat kepada Nabi saw., maka nabi langsung bertanya, Anda bermaksud ke mana? Orang tersebut menjawab: “Saya bermaksud menemui keluarga saya.” Nabi saw. bersabda lagi inginkah Anda kutunjukkan kepada kebaikan? “ Orang tersebut menjawab : “ Apa kebaikan itu?” Nabi saw. bersabda : “ Anda bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad itu hamba dan rasul-Nya.” Orang tersebut berkata : “ Siapa yang bersaksi kepadamu terhadap apa yang engkau katakan itu ? “ Nabi menjawab : “ Pohon ini yang berada di tepi wadi”, maka pohon itupun terhunjam di antara kedua tangan Nabi dan mengucapkan syahadat tiga kali, dan orang itu mengikuti ungkapan pohon itu, kemudian dia kembali ke tempatnya.

7) Orang Quraisy menaruh 360 berhala di Ka’bah. Berhala-berhala itu jatuh sujud ketika disebutkan ayat,

“Allah menyaksikan bahwa tiada tuhan melainkanNya…”
(QS ALI IMRAN:18)

8) Dalam perang Khaibar, seorang Arab Badui datang kepada Nabi saw. dan, setelah memeluk Islam, menyatakan keinginannya untuk ikut berperang bersama Nabi saw.. Rasul saw. lalu meminta beberap sahabat untuk mengurus keperluan orang Arab Badui itu. Ketika kaum Muslimin berhasil menaklukkan sebuah benteng dan mendapatkan banyak ghanimah, para lelaki mengeluarkan sekawanan ternak untuk digembalakan. Harta rampasan perang itu kemudian dibagi-bagi kepada seluruh pasukan dan si Arab Badui itu pun memperoleh bagian. Ketika bagiannya diberikan kepadanya, si Arab Badui itu membawa bagiannya ke hadapan Rasul saw. dan bertanya, “Apakah ini?” Rasul saw. menjelaskan bahwa itu adalah bagiannya dari harta rampasan perang. Si Arab Badui itu berkata, “Saya tidak datang kepadamu untuk ini.” Sambil menunjuk lehernya, ia melanjutkan, “Saya mengikutimu dengan harapan bahwa saya dapat terkena anak panah di sini dan lalu masuk surga.” Rasul saw. bersabda, “Jika memang itu yang kau inginkan, Allah akan berbuat demikian.”

Dalam peperangan berikutnya di Khaibar, mayat si Arab Badui itu ditemukan di antara para pejuang yang gugur dalam pertempuran. Rasul saw. bertanya, “Apakah itu orang yang sama?” Ketika para sahabat mengiyakan, Rasul saw. bersabda, “Ia jujur kepada Allah, maka Allah mewujudkan keinginannya.”

9) Baihaqi meriwayatkan dalam Dala’il an-Nubuwwah dan Ibnu Abdil-Barr dalam Al-Isti’ab dari Ummu Ashim ra., istri Utbah bin Farqad ra.:
Kami bertiga adalah istri-istri Utbah ra. dan kami memakai parfum terbaik. Tetapi, keharuman yang keluar dari tubuh Utbah mengalahkan keharuman kami semua. Suatu hari aku bertanya kepada Utbah tentang rahasia aroma tubuhnya. Ia menceritakan, “Ketika aku sakit, Nabi saw. datang menjengukku dan membuka pakaianku lalu mengambil ludahnya serta menggosokkannya pada kedua telapak tangannya dan menyebarkannya pada perut dan punggungku. Sejak hari itu, tubuhku mengeluarkan keharuman yang mengalahkan semua wewangian.”

10) Mukjizat Pembelahan Bulan

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”
(QS 54(AL-QAMAR):1)

Dalam riwayat-riwayat awal, kalimat ini dijelaskan bukan sebagai suatu tanda eskatologik, melainkan lebih sebagai berkaitan dengansuatu mukjizat yang dilakukan oleh Nabi untuk meyakinkan kaum Quraisy yang meragukan kebenaran risalah yang dibawanya: dia membelah bulan menjadi dua bagian, yang pada antaranya Gunung Hira dapat dilihat. Untuk meyakinkan orang-orang yang tidak percaya kepada mukjizat ini, Qadhi ‘Iyad menyatakan bahwa:

Belum pernah diceritakan oleh bangsa mana pun di atas bumi ini bahwa bulan terlihat pada malam itu sebegitu rupa sehingga dapat dikatakan bahwa ia tidak terbelah. Bahkan jika hal ini telah diriwayatkan dari banyak tempat yang berlainan, sehingga kita harus membuang kemungkinan bahwa semua orang setuju untuk berdusta, toh kita tidak akan dapat menerima ini sebagai bukti dari kebalikannya, sebab bulan itu tidak dilihat dengan cara yang sama oleh orang-orang yang berbeda … Suatu gerhana dapat dilihat di suatu negeri, tetapi tidak di negeri lain; di satu tempat gerhana itu menyeluruh, sedang di tempat lain hanya sebagian.

Karena hidup di Ceuta, Qadhi ‘Iyad tentu saja tidak mengenal tradisi India. Dia akan senang sekali jika mengetahui bahwa di bagian dunia itu diceritakan bahwa seorang raja bernama Syakrawati Farmad di India Selatan benar-benar telah melihat bulan yang terbelah itu, dan ketika dia mengetahui dari saksi-saksi yang dapat dipercaya tentang apa yang sedang terjadi di Makkah pada malam itu, dia memeluk Islam. Karena itu, pemukiman Muslim pertama di anak benua India dianggap sebagai akibat mukjizat tersebut. Kisah ini tentunya lebih dikenal luas di India selatan, dan diceritakan kembali di sana pada akhir Abad Pertengahan dalam suatu teks bahasa Arab. Adalah menarik untuk dicatat bahwa bahkan sampai pertengahan abad kesembilan belas, sebuah miniatur dibuat di istana Rajput (Hindu) di Kotah, yang menunjukkan pembelahan bulan dengan seluruh rinciannya.

Karena Muhammad disamakan, dalam bahasa puisi, dengan matahari atau cahaya pagi, wajarlah bagi para penyair itu bahwa:matahari akan membelah bulan menjadi dua,” sebagaimana diungkapkan oleh Sana’i pada awal abad kedua belas, dan puisi rakyat – entah itu dalam bahasa Sindh, Panjab, Swahili atau bahasa-bahasa lainnya – selalu mengulang-ceritakan mukjizat ini, dan menghiasinya dengan rincian-rincian yang memikat. Para ahli pikir yang lebih rasionalistik, dapat dimengerti, menemui banyak kesulitan jika harus menjelaskan tentang pembelahan bulan itu, dan kadang-kadang mereka berusaha menghapuskan dongengan dari peristiwa itu dan fenomena adialami lainnya. Ahli teologi pembaru dari India, Syah Waliullah dari Delhi, menulis pada pertengahan abad kedelapan belas bahwa pembelahan bulan itu mungkin merupakan semacam halusinasi, atau barangkali disebabkan “oleh asap, oleh sebuah bintang yang sedang menukik kebawah, segumpal awan, atau gerhana matahari atau bulan yang mungkin telah memberi kesan bahwa bulan tersebut benar-benar terbelah dua.” Sekalipun demikian, dalam puisi bahasa Arab yang ditulisnya untuk menghormati Nabi, Syah Waliullah pun, bersama dengan beratus-ratus penulis yang saleh lainnya, dengan penuh kasih sayang telah membicarakan tentnag mukjizat ini yang membuktikan kebesaran Muhammad. Sebab orang-orang beriman tahu bahwa dia yang benar-benar mencintai Nabi. Sebagaimana yang dilagukan Rumi dalam salah satu syair lirikannya, dapat membelah bulan dengan jari Mushthafa.
Hadis tentang terbelahnya bulan diriwayatkan banyak para sahabat, di antara mereka Abdullah bin Mas’ud, Anas bin Maalik, Hudzaifah al-Yaman, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Jubair bin Muth’im, sehingga jama’ah ahli tafsir mengungkapkan bahwa tidak ada khilafiyah. Bahkan Ibnu Mas’ud bersumpah, “Demi Allah aku menyaksikan terbelahnya bulan itu. Terbelahnya bulan itu merupakan tanda Kenabian Rasalullah saw. dan terbelahnya bulan itu adalah tanda dekatnya kiamat itu.”

11) Mukjizat: Domba Umm Ma’bad

Sekelompok Sahabat Nabi melewati tenda Umm Ma’bad di padang pasir, dan berusaha membeli daging dan kurma darinya, tetapi wanita itu sama sekali tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan. Lalu Nabi menunjuk kepada satu-satunya domba yang sedang berbaring di pojok, dan bertanya:
“Apakah ia mempunyai susu?”
Dia berkata: Ia terlalu lemah.”
Nabi bertanya: “Apakah Engkau mengizinkan aku untuk memerah susunya?”
Dia berkata: “Engkau yang lebih kusayangi daripada ayah dan ibu, jika aku tahu ia mempunyai susu maka aku pasti telah memerahnya sebelumnya.”

Lalu Rasul Allah memanggil domba itu, dan meletakkan tangannya pada ambingnya, dan menyerukan nama Allah, serta berdoa untuk wanita itu dan dombanya. Tiba-tiba domba itu menegakkan kakinya ke arahnya, dan susu mulai mengalir. Nabi meminta sebuah wadah untuk susu itu, dan memerah banyak susu ke dalamnya. Lalu dia memberikannya kepada wanita itu agar diminum hingga kenyang, dan dia memberikannya kepada para sahabatnya sampai perut mereka kenyang, dan dia sendiri minum paling akhir. Setelah mereka memuaskan rasa dahaga, Nabi memerah susu sekali lagi sampai wadah itu penuh, dan dia meninggalkannya dan mereka meneruskan perjalanan.

Beberapa lama kemudian suami wanita itu, Abu Ma’bad, tiba dengan menuntun beberapa ekor kambing lapar yang rupanya sangat menyedihkan dan yang sumsumnya hampir kering. Ketika dia melihat susu itu, dia terkejut dan bertanya kepadanya: “Dari mana engkau dapatkan susu ini, Umm Ma’bad? Sebab domba itu telah kering dan tidak ada ternak perah di rumah ini.”
Wanita itu berkata: “Benar, tapi seorang pria mulia telah melewati tempat ini dan begini, begitu.”
Dia berkata: “Lukiskan penampilannya , Umm Ma’bad!?
Wanita itu berkata: “Aku melihat seorang pria yang sangat bersih, dengan wajah cemerlang, dengan sopan santun sempurna. Dia tidak kurus dan tidak botak; lemah lembut dan anggun; matanya hitam legam, dengan bulu mata melengkung, suaranya merdu dan lehernya bersinar, janggutnya tebal, alis matanya melengkung indah. Ketika dia diam, kemuliaan melingkupinya, dan ketika dia berbicara dia tampak berwibawa, dan kecemerlangan cahaya mengelilinginya. Seorang pria yang paling tampak dan bercahaya dari jauh, dan yang paling manis dan lembut hati dari dekat.”

Al-Barzanji mengungkapkan mukjizat ini dalam shalawat al-Barzanji Natsar bab XVI :

Dalam perjalanannya ke Madinah belaw saw. berhenti di kampung Qudaid, tempat tinggal Umi Ma’bad al-Khuza’i.
Beliau bermaksud membeli daging atau susu, akan tetapi ia tidak mempunyai persediaan.
Kemudian beliau melihat seekor kambing di rumah itu yang tidak digembalakan.
Maka beliau minta izin kepadanya untuk memerahnya, Ummu Ma’bad memberi izin dan berkata:’Jika ada air susunya tentu sudah kami perah.’
Beliau memerah kambing itu dengan tangannya sambil berdoa kepada Allah, selaku tuan dan pembimbingnya.
Maka memancarlah air susu kambing itu dengan derasnya, sehingga dapat diminum oleh beliau dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Kemudian beliau memerah lagi, dan setelah penuh satu bejana ditinggalkannya sebagai tanda.
Setelah itu, datanglah Abu Ma’bad. Tatkala melihat susu itu ia terheran-heran.
Dia bertanya kepada istrinya: “Dari mana kamu dapatkan susu ini, padahal kita tidak punya kambing perah yang berair susu.”
Jawab istrinya: “Tadi ada seorang laki-laki pembawa berkah datang kemari, sosok dan sifat orangnya begini-begini.”
Suaminya berkata: “Beliau pasti orang Quraisy,” seraya menyumpahi diri.
Seandainya ia bertemu beliau pasti ia beriman serta mengikuti dan menemani jejak langkah beliau.
Beliau saw. sampai di Madinah hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal, kedatangannya menjadikan Madinah bercahaya dan semarak.
Sahabat-sahabat Anshar menjemputnya dan beliau singgah dulu di Quba untuk membangun masjid yang didasarkan atas ketaqwaan.

12) Sebelum Perang Badar dimulai, Nabi saw. menunjukkan kepada para sahabatnya tempat para pemuka Quraisy akan mati. Semua prediksi Nabi saw. tepat.

13) Sebelum wafatnya, Nabi saw. memberitahu Fathimah as. tentang kematiannya sendiri, lalu memberitahukan bahwa Fathimah as. adalah orang pertama yang akan menyusulnya. Kedua kabar ini ternyata benar.

14) Ali bin Abi Thalib kw. Meriwayatkan, “Saya sedang bersama Nabi saw. di Mekah. Setiap gunung dan pohon yang dilewatinya mengucapkan, “As-Salamu ‘alayka ya Rasulallah,””
Farwah, menceritakan dari al-Walid bin Abi Tsaur al-Hamdaniy, dari Ismail al Sudiyy dari ‘Ibad Abi Yazid, dari Ali bin Abi Thalib ra. berkata: “Kami bersama Nabi saw. di Makkah, terus kami bepergian bersama beliau dalam satu perjalanan, maka setiap kami melewati pohon-pohon dan gunung-gunung pasti mengucapkan: “Assalamu ‘alaika ya Rasulallah”.

15) Ibnu Abbas ra. meriwayatkan:

Seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Bagaimana aku bisa tahu bahwa engkau seorang nabi?” Rasul saw. menjawab, “Dengan kesaksian pohon kurma itu bahwa saya adalah rasul Allah.” Si Arab Badui setuju. Rasul saw. kemudian memanggil pohon kurma itu dan pohon itu pun bergerak menghampiri Nabi saw. lalu merunduk di hadapannya. Setelah itu, Rasul saw. menyuruh pohon tersebut untuk kembali lalu ia pun kembali ke tempatnya. Si Arab Badui memeluk Islam saat itu juga dan di situ juga.

16) Jabir ra. meriwayatkan:
Pada hari Perjanjian Hudaibiah, orang-orang merasa kehausan dan mereka menghampiri Nabi saw. untuk meminta air. Air dalam bejana hanya tinggal sedikit. Rasul saw. lalu berwudu. Setelah itu, beliau memasukkan tanganya ke dalam bejana dan air keluar dari sela-sela jemarinya seperti mengalir dari mata air. Orang-orang pun minum dan berwudu. Jumlah mereka seribu lima ratus orang.

17) Pada hari Perjanjian Hudaibiah, ada sebuah sumur yang diambil airnya oleh seribu empat ratus orang sampai kering. Kemudian, Rasulullah saw. datang dan meminta bejana air.Ketika berwudhu, beliau berkumur lalu berdoa. Kemudian beliau meuangkan air ke dalam sumur tersebut. Setelah dibiarkan beberapa saat, mereka mengambil air dari sumur tersebut untuk mereka dan hewan-hewan mereka sampai mereka berangkat lagi.

18) Ketika orang Mekah gagal menghalangi orang untuk memeluk Islam, mereka menganiaya orang-orang mukmin. Usman bin Mazun ra. ditampar oleh seorang musyrik dengan sangat keras sehingga bola matanya copot. Ketika menghadap Nabi saw. dan melaporkan kejadian itu, nabi menaruh kembali bola mata yang copot ke tempatnya semula seperti belum pernah copot.

19) Banyak kejadian yang telah Nabi saw. tahu jauh sebelum kejadian itu. Nabi Muhammad saw. memperingatkan Abuzar bahwa ia akan dizalimi Usman dan bahwa ia akan dimandikan, dikafani, dan dikubur oleh sekelompok orang dari Irak.

20) Nabi Muhammad saw. memberitahu Zayd bin Suhan bahwa salah satu anggota tubuhnya akan mendahuluinya ke surga. Sesuai dengan itu, dia kehilangan tangannya di perang di Nahavend (Nahrawan?).

21) Nabi Muhammad saw. telah memberitahukan kesyahidan Imam Husain dan keluarganya, dan memberikan Ummu Salamah pasir Karbala, yang akan berubah menjadi darah ketika pembantaian tersebut terjadi.

22) Nabi Muhammad saw. telah meramalkan kesyahidan dan penguburan Imam Ali ar-Ridha’ di Khurasan.

23) Suatu hari Nabi saw. sedang duduk bersama Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, dia berkata kepada mereka, “Kuburan kalian akan terpencar dan terpisah satu sama lain.” Husain bertanya apakah mereka meninggal secara alami atau dibunuh. Muhammad saw. menjawab, “Kamu, kakakmu dan ayahmu akan dibunuh dalam kezaliman, dan keturunanmu akan dizalimi oleh tiran. Husain bertanya kembali apakah akan ada yang mengunjungi kuburan mereka. Nabi saw. mengatakan “Sekelompok orang dari umatku akan mengunjungi kuburanmu karena aku, mereka yang akan kutemui di hari pembalasan dan kuselamatkan pada hari itu.”

24) Baihaqi meriwayatkan dari Ummul Fadhl ra.:
Saya sedang memangku Imam Husain as. Ketika Nabi saw. datang dan memandangnya sambil menitikkan air mata. Saya bertanya kepada beliau mengapa menangis. Rasul saw. mengungkapkan bahwa Jibril telah memberitahunya bahwa para pengikutnya akan membunuh cucunya, Husain ra..

25) Ibnu Asakir meriwayatkan dari Muhammad bin Umar bin Hasan:
Suatu saat saya bersama Imam Husain ra. di Karbala. Sang imam berkata begitu melihat Syimar, “Allah dan RasulNya mengatakan kebenaran.” Ketika ditanya, ia mengutarakan, “Nabi saw. mengabarkan bahwa beliau melihat seekor anjing bebercak putih mengendus darah di kulitnya.” Syimar memiliki kusta putih dan berbintik putih.

26) Abdurrahman bin Auf mengutip Abu Raja’ yang meriwayatkan dari Imran bin Husain:
Dalam sebuah perjalanan, kami mengadu kehausan kepada Rasul saw.. Beliau saw. turun dari kendaraan lalu memanggi beberapa orang di antara kami dan menyuruh mereka untuk mencari air. Mereka pergi dan bertemu dengan seorang wanita yang menunggang unta dengan kantung air dari kulit di kedua sisi untanya. Mereka pun membawa wanita itu ke hadapan Rasul saw. yang mempersilakannya untuk turun dari untanya.

Nabi saw. meminta diambilkan bejana dan mengisinya dengan air dari kantung-kantung kulit tempat air itu. Lalu, kami dipersilakan untuk mengambil air. Kami, empat puluh orang yang kehausan, minum hingga puas serta mengisi kantung air dan bejana yang ada pada kami. Saya bersumpah demi Allah, kantung air itu terlihat lebih penuh daripada ketika Nabi saw. mulai mengambil airnya.

27) Ummul Fadhl ra. bermimpi bagian tubuhnya lepas dan jatuh ke pangkuannya. Rasulullah mengatakan bahwa Fatimah ra. akan melahirkan anak laki-laki dan ditaruh di pangkuan Ummul Fadhl ra.. Hal itu tepat. Imam Husain lahir dan diletakkan di pangkuan Ummul Fadhl ra.. (Diriwayatkan Baihaqi dari Ummul Fadhl)

28) Seorang lelaki berbohong bahwa ia tidak bisa makan menggunakan tangan kanan. Lalu Nabi saw. berkata, “semoga engkau benar-benar tidak bisa,” Lalu lelaki tersebut benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanan sampai ke mulut. (Diriwayatkan oleh Salamah bin Akwa)

29) Seorang bayi berumur satu hari ditanya oleh Nabi Muhammad saw., “Siapakah aku?” dan dia menjawab, “Engkau adalah nabi Allah.” Sejak saat itu, dia dapat berbicara. (diriwayatkan oleh Khatib)

30) Seorang penyembah berhala wanita, yang sering mencaci maki Nabi Muhammad saw, bertemu Nabi saw. dengan bayi berumur dua tahun di pundaknya. Bayi tersebut memberi salam kepadanya, mengejutkan ibunya yang penyembah berhala. Ketika ditanya, bayi tersebut menjawab bahwa dia telah diberitahu oleh Tuhan segala alam tentang Nabi Muhammad saw.

31) Seorang anak terlambat berbicara sampai dianggap bisu oleh orang-orang. Dia ditanya oleh nabi, “siapa saya?” “Utusan Allah,” Jawabnya. Kemudian dia dapat berbicara.

32) Al-Qur’an adalah mukjizat paling agung nabi Muhammad saw.. Mukjizat-mukjizat al-Qur’an akan dijelaskan dalam bukti (11d): Mukjizat Agung: Al-Qur’an

* * *

Mukjizat Rasulullah saw.

Mukjizat Rasulullah saw.

Kategori:halaman
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: