Beranda > halaman > Beriman kepada Rasul-Rasul

Beriman kepada Rasul-Rasul


Orang Muslim beriman bahwa Allah SWT telah memilih di antara manusia sebagai rasul-rasul, mewahyukan syari’at-Nya kepada mereka, menyuruh mereka menyampaikannya sebagai hujjah bagi-Nya pada hari kiamat, mengutus mereka dengan keterangan-keterangan, mendukung mereka dengan mukjizat-mukjizat, dimulai dari Nabi Nuh a.s. dan ditutup dengan Nabi Muhammad saw.


Kendati kebiasaan-kebiasaan manusia juga terjadi pada rasul-rasul: makan, minum, sakit, sehat, lupa, ingat, mati, dan juga hidup. Namun, mereka makhluk yang paling sempurna secara mutlak, dan paling mulia tanpa pengecualian. Iman seorang hamba tidak sempurna, kecuali dengan mengimani mereka secara global atau detail, karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang rasul-rasul-Nya, pengutusan mereka, dan risalah-risalah mereka dengan firman-firman-Nya, yang artinya seperti berikut:
* “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),’Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut.” (An-Nahl: 36).
* “Allah memilih utusan-utusan dari malaikat dan dari manusia sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Hajj: 75).
* “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus,Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 163-165).
* “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid: 25).
* “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.” (Al-Anbiya’: 83).
* “Dan Kami telah mengutus rasul-rasulsebelummu, melaikan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Al-Furqan: 20).
* “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israel, tatkala Musa datang kepada mereka.” (Al-Isra’: 101).
* “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (Al-Ahzab: 7-8).
2. Penjelasan Rasulullah saw. tentang diri beliau, dan saudara-saudaranya dari para nabi dan para rasul dengan sabda-sabdanya seperti berikut.
* “Allah tidak mengutus seorang nabi pun, melaikan ia peringatkan kaumnya dari si buta sebelah yang pendusta, yaitu Al-Masih Ad-Dajjal.” (Diriwatarkan Al-Bukhari dan Muslim).
* “Janganlah kalian saling melebihkan para nabi.”
* Ketika Rasulullah saw. ditanya Abu Dzar r.a. tentang jumlah para nabi, dan para rasul, beliau bersabda, “Jumlah nabi ialah seratus dua puluh ribu, dan jumlah rasul ialah tiga ratus tiga belas.”
* “Seandainya Musa atau Isa masih hidup, maka tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengikutiku.” (Diriwayatkan Abu Ya’la).
* “Itulah Nabi Ibrahim.” Ini beliau ucapkan ketika beliau dipanggil ‘hai manusia terbaik’. Beliau tawadhu’ kepada Nabi Ibrahim.
* “Seorang hamba tidak layak berkata, ‘Sesungguhnya aku lebih baik dari pada Yunus bin Matta’.”
* Penjelasan Rasulullah saw. tentang para rasul ketika mereka dipertemukan dengan beliau di Baitul Maqdis, dan beliau shalat sebagi imam bagi mereka, beliau bertemu di langit dengan Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan beliau menjelaskan tentang mereka, dan kondisi yang beliau saksikan dari mereka.
* “Sesungguhnya Nabi Allah, Daud makan dari hasil kerja tangannya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
3. Keimanan miliaran kaum Muslimin, dan selain kaum muslimin dari Ahli Kitab Yahudi, dan Kristen kepada rasul-rasul Allah, dan pembenaran yang kuat terhadap risalah mereka, keyakinan mereka terhadap kesempurnaan mereka, dan pemilihan Allah terhadap mereka.

Dalil-Dalil Akal

1. Rububiyah Allah Ta’ala, dan rahmat-Nya menghendaki pengutusan rasul-rasul dari-Nya kepada makhluk-Nya untuk mengenalkan mereka kepada Tuhan mereka, membimbing mereka kepada sesuatu yang menyempurnakan kemanusiaan mereka, kebahagiaan mereka di dunia dan kebahagiaan mereka di akhirat.
2. Penciptaan Allah Ta’ala terhadap makhluk untuk menyembah-Nya seperti yang Dia firmankan, “Dan Aku telah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” (Adz-Dzariyat: 56) itu menghendaki pemilihan rasul-rasul, dan pengutusan mereka untuk mengajari manusia bagaimana cara mereka taat kepada-Nya, karena ibadah dan ketaatan adalah tugas pokok penciptaan mereka.
3. Sesungguhnya pahala karena ketaatan, dan hukuman karena maksiat menghendaki pengiriman rasul-rasul dan pengutusan para nabi, agar di hari kiamat manusia tidak berkata,”Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu cara ketaatan kepada-Mu hingga kami bisa taat kepada-Mu dengan benar, dan kami juga tidak mengetahui apa saja kemaksiatan kepada-Mu hingga kami bisa menjauhinya. Pada hari ini, Engkau tidak mempunyai kezhaliman. Oleh karena itu, jangan siksa kami.” Jika itu terjadi, maka manusia mempunyai alasan seperti itu. Jadi, ini menghendaki pengutusan para rasul untuk memutus argumen manusia seperti di atas. Allah berfirman, “(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 165).

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 31-35.

kisah nabi-nabi

kisah nabi-nabi

Kategori:halaman
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: